November 26, 2022

Dalam menjaga warisan sejarah dan budaya indatu (nenek moyang), komunitas pecinta sejarah dan budaya Kluet dimotori anak-anak muda menggelar expo kuliner rabee jakut sebagai salah satu kuliner khas suku KluetAceh Selatan.

Expo rabee jakut itu dihadiri tokoh masyarakat Kluet, Ketua Masyarakat Adat Aceh (MAA) se-Kluet Raya, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan dan ibu-ibu penggerak kesejahteraan keluarga (PKK) bertempat di halaman gedung pertemuan Kotafajar, Kecamatan Kluet Utara, Minggu (25/9/2022).

Komunitas pecinta sejarah dan budaya Kluet dimotori oleh Baihaki, Yusnadiwan, M Najur, Saidi Hasan, Maulizar, Muzakkir, Safdar, Jon Darmawan dan Hartini.

Gelaran expo rabee ini didukung penuh oleh Camat Kluet Utara, Kepala SMA Negeri 1 Kotafajar serta dukungan dari tokoh adat masyarakat Kluet.

Mantan Bupati Aceh Selatan, Tgk Husin Yusuf SPdI sebagai tokoh masyarakat mengatakan, banyak makanan khas suku Kluet yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

“Untuk itu perlu dilestarikan.kembali khususnya kuliner khas daerah seperti rabee jukut agar generasi muda mengetahuinya dan masyarakat pada umumnya tetap menjaga kelestariannya,” kata Husin Yusuf.

Sementara tetua kampung dari Kluet Selatan, Darwis Rani menceritakan sejarah rabee yang turun temurun hingga dijadikan makanan lezat bagi masyarakat Kluet hingga saat ini.

“Masyarakat Kluet tempo dulu sering memburu hewan liar seperti Rusa di gunung atau hutan, ketika memperoleh hewan itu dimasak dengan menggunakan bumbu sederhana,” ucapnya.

Darwis menceritakan, karena keterbasan bumbu masakan di gunung atau di hutan sangat terbatas.

Dimasak dengan cara sederhana, ternyata memiliki rasa yang lezat hingga dipertahankan sampai sekarang dan menjadi makanan asli suku Kluet.

Untuk melestarikan rabee sebagai kuliner Kluet, Kepala SMA Negeri 1 Kluet Utara, Drs Sarfunis menyarakankan, agar sekolah yang ada di Wilayah Kluet melakukan lomba antar kelas bahkan antar sekolah untuk melalukan lomba masak kuliner khas daerah.

“Tujuannya adalah bagi siswa dan generasi muda lebih kenal dengan masakan khas dari daerahnya sendiri dengan harapan tetap terjaga dan lestari,” ucap Sarfunis.

Sedangkan Camat Kluet Utara, Misbah SAg menuturkan, agar rabee ini tidak diklaim oleh daerah lain maka perlu segera di daftarkan ke Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). 

Senada dengan pernyataan Camat Kluet Utara mendapat dukungan dari Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Selatan, Hendry Yatdi SPd mendukung sepenuhnya agar rabee di daftarkan ke WBTBI.

“Ini adalah hak intektualitas ketika sudah terdaftar di WBTBI. Untuk itu bagi komunitas pecinta sejarah dan budaya Kluet baik yang ada di daerah maupun komunitas yang berada di Banda Aceh segera di daftarkan dengan sinopsis lengkap dengan vidionya,” imbuh Hendry.

Selanjutnya Hartini yang ditunjuk untuk meramu bumbu sekaligus memasak rabee menjelaskan, masakan ini unik beda dengan makanan lainnya.

“Rabee menggunakan bumbu mentah dan alami tanpa dimasak terkecuali daging kerbau atau sapi yang direbus terlebih dahulu. Kemudian rasanya sangat lezat,” ujar Hartini.

Untuk di daftarkan rabee ke WBTBI akan dibantu beberapa orang akademi asal Kluet yaitu, Dr Muhammad Yasar dari USK dan Herman RN MPd juga dari USK serta Dr Sehat Ihsan Shadiqin dari UIN Ar-Raniry.(*)

Sumber :  https://aceh.tribunnews.com/2022/09/25/komunitas-pecinta-sejarah-dan-budaya-kluet-aceh-selatan-gelar-expo-rabee.
Penulis: Taufik Zass | Editor: Muhammad Hadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.